Contoh Tembang Pangkur Tema Pendidikan

Tembang ini pas untuk digunakan untuk menceritakan cerita bab perjuangan lalu peperangan. Tembang macapat pangkur di atas hanya ialah tembang pembuka dalam serat Wedhatama Pupuh I Pangkur. Dalam bait-bait tembang selanjutnya KGPAA Mangkunegoro IV oleh jelas juga memberi gambaran tentang perbedaan orang-orang yang berilmu luhur dengan jamaah yang kurang ilmu.


Barang-barang dalam tidak menguntungkan dan dapat bikin kerusakan hendaknya ditinggalkan. Dari watak inilah, tembang pangkur sangat cocok tuk digunakan untuk menggambarkan cerita perjuangan pahlawan dan cerita peperangan. Watak tembang pangkur menggambarkan karakter yang mantap, gagah, perkasa dan hatinya tenang.


Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Kutipan tembang kinanthi di atas memberi petunjuk arti penting prihatin.


Kewaspadaan hati dan ketajaman pikir dilakukan dengan pengendalian sendiri, agar hidupnya selamat. Tembang Pangkur memiliki filosofi yang menggambarkan kehidupan yang seharusnya dapat menjauhi berbagai hawa nafsu dan angkara murka. Watak tembang pangkur menggambarkan sebuah karakter yang gagah, kuat, perkasa dan ketulusan hati yang besar juga tidak memiliki keraguan dalam mengajak seseorang untuk merubah masa lalunya.



Pahami pula adat serta aturan, serta jangan lupakan tata krama baik siang maupun malam. #02 Miwah konstruera sabarang karya Ing prakara kang gedhe lan kang cilik Papat iku aja kantun Kanggo sadina-dina Rina wengi nagara miwah e dhusun Kabeh kang padha ambegan Papat iku aja lali. Arti Tembang Demikian pula pertimbangan empat perkara dalam segala hal baugs yang besar maupun yg kecil jangan kau lupakan, terapkan sehari-hari, siang ataupun malam, di kota juga di desa. Tembang “Pangkur” berasal dari kata ‘mungkur’ yang artinya pergi / meninggalkan. Filosofi tembang pangkur merupakan sautu penggambaran kehidupan yang seharusnya dapat menghindari berbagai hawa nafsu serta angkara murka yang sifatnya buruk.


Karenanya, tak heran bila masih banyak masyarakat suku Jawa yang mengenal dan memahami tembang macapat yang bernilai luhur terkait. Tembang pangkur tembang ini, tersimpan warisan budaya yg luhur dan sangat berharga untuk dipelajari. Pangkur bermakas dari kata ‘mungkur’ dalam memiliki arti pergi / meninggalkan. Tembang Pangkur menggambarkan kearifan kehidupan yang seharusnya dapat menjauhi berbagai hawa nafsu dan angkara murka. Di saat menghadapi sesuatu yang buruk sebaiknya orang pergi menjauhi dan membuang yang buruk tersebut.


Arti filosofis yang tinggi pas buat kajian rohani. Mangkunegara IV menghargai kualitas intelektual, material dan spiritual. Kutipan tembang pangkur di atas terkait dengan usaha untuk membina generasi muda.


Kata “Sinom” mempunyai arti pucuk dalam baru tumbuh atau bersemi. Filosogi tembang Sinom mengandung penggambaran dari seorang manusia yang beranjak dewasa, dan telah menjadi seorang pemuda / remaja yang bersemi. Menjadi seorang remaja, bertanda ia bertugas untuk menuntut ilmu sebaik dan setinggi mungkin untuk dijadikan bekal kehidupannya kelak. Untaian ajaran luhur buat putra-putri telah disusun oleh Mangkunegara IV dalam kitab Wedhatama.


Gak heran jika banyak banget tembang macapat pangkur dalam berisikan nasehat-nasehat pada generasi muda. Dalam serat Wedhatama, tembang ini memberi gambaran akan pentingnya manusia tuk selalu belajar agar dapat menguasai ilmu yang luhur. Yang dimaksud dengan ilmu yang luhur yaitu manusia harus mampu mengelola emosi, sikap, mampu membawa sendiri, dan memiliki kesadaran banyak atas dirinya dengan kawasan dan Tuhannya. Filosofi lagu macapat Durma mengajarkan biar dalam kehidupan, manusia dapat saling memberi dan saling melengkapi satu sama lain. Dengan begitu, kehidupan dalam dijalankan dapat lebih seimbang.


Kita perlu untuk mengontrol nilai saling menolong pada siapa saja dengan ikhlas. Seorang anak pada awalnya membutuhkan tuntunan penuh dri orang tua atau jamaah – orang lain dalam sekitarnya. Tuntutan yang komplet ini tidak hanya untuk belajar berjalan, melainkan pun tuntunan dalam memahami berbagai norma dan adat yg berlaku.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *